Jakarta, Datatambang – PT Petrosea Tbk (PTRO), perusahaan yang berada dalam kelompok usaha milik konglomerat Prajogo Pangestu, mencatat peningkatan laba bersih pada semester I 2026. Perseroan membukukan laba bersih sebesar US$9,2 juta, naik signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat US$1,28 juta.
Kinerja tersebut antara lain ditopang oleh keuntungan kurs mata uang asing yang mencapai US$43,7 juta. Namun, di sisi lain, Petrosea juga membukukan kerugian dari investasi pada aset keuangan lainnya sebesar US$10,8 juta serta kerugian divestasi anak perusahaan senilai US$5,8 juta.
Dari sisi pendapatan, Petrosea mencatat pertumbuhan sebesar 59,5%, dari US$341 juta pada semester I 2025 menjadi US$544 juta pada semester I 2026. Namun, kenaikan pendapatan tersebut diikuti peningkatan beban usaha sebesar 69,6% menjadi US$497 juta. Kondisi tersebut membuat laba kotor perseroan mencapai US$47 juta, sedikit lebih rendah dibandingkan US$48,3 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Segmen pertambangan menjadi penyumbang pendapatan terbesar dengan nilai sekitar US$300 juta. Berikutnya adalah segmen konstruksi dan rekayasa sebesar US$196,5 juta, EPCI minyak bumi dan gas lepas pantai US$28,2 juta, serta jasa sebesar US$17,8 juta. Sejumlah pelanggan utama Petrosea antara lain BP Berau Coal Ltd, PT Vale Indonesia Tbk, PT Kideco Jaya Agung, dan PT Freeport Indonesia.
Dari sisi posisi keuangan, total aset Petrosea tercatat mencapai US$1,53 miliar, sedangkan total kewajiban berada di kisaran US$1,2 miliar. Dengan demikian, ekuitas perseroan tercatat sekitar US$321 juta. Komposisi tersebut menunjukkan porsi kewajiban yang cukup besar dibandingkan total aset, sehingga perkembangan struktur permodalan dan kewajiban perusahaan menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan.
Sementara itu, kas dan setara kas Petrosea hingga akhir Juni 2026 tercatat sebesar US$80,4 juta. Nilai tersebut menjadi bagian dari aset likuid yang dapat digunakan perseroan untuk mendukung kebutuhan operasional serta memenuhi kewajiban jangka pendek.
Di tengah perkembangan kinerja keuangan tersebut, Petrosea juga memperluas bisnisnya melalui aksi korporasi. Melalui PT Petrosea Engineering Procurement Construction (PEPC) dan PT Rekakarsa Karya Nusantara (REKAN), perseroan mengakuisisi saham PT Sejahtera Terminal Logistik (STL) senilai Rp880 juta pada 15 September 2026.
STL merupakan perusahaan yang bergerak dalam aktivitas pelayanan kepelabuhanan laut. Masuknya STL ke dalam kelompok usaha Petrosea diharapkan dapat mendukung penguatan lini bisnis Logistics & Support Services, sekaligus memperluas cakupan kegiatan usaha perseroan di sektor pendukung pertambangan dan energi.










