Beranda / CSR / PLN Kembangkan Geowisata Panas Bumi Wogo, Boardwalk Ditargetkan Rampung November 2026

PLN Kembangkan Geowisata Panas Bumi Wogo, Boardwalk Ditargetkan Rampung November 2026

Ngada, Datatambang – PT PLN (Persero) terus mendorong pengembangan Geowisata Geothermal Wogo di Mataloko, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Proyek ini dirancang untuk memadukan pemanfaatan energi panas bumi dengan pariwisata edukatif berbasis alam yang melibatkan masyarakat setempat.

Kepala PLN Ngada, Adrys Silaban, menjelaskan bahwa pekerjaan saat ini difokuskan pada pembangunan boardwalk atau jalur pejalan kaki. Fasilitas tersebut disiapkan sebagai akses bagi wisatawan dan masyarakat yang ingin menyaksikan secara langsung fenomena alam serta manifestasi panas bumi di kawasan tersebut.

Setelah pembangunan jalur pejalan kaki selesai, PLN akan berkoordinasi dengan masyarakat Desa Wogo, khususnya Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), untuk membahas penataan lanskap di sekitar kawasan geowisata. Penataan tersebut diharapkan dapat mengakomodasi usulan warga, termasuk penanaman rebung bambu dan berbagai tanaman produktif seperti cabai.

“Setelah pekerjaan boardwalk selesai, kami akan melanjutkan diskusi bersama masyarakat untuk mengatur lanskap tanah di sekitar kawasan ini. Ada sejumlah usulan dari warga mengenai tanaman yang dapat dikembangkan, dan semuanya akan ditata secara bertahap,” jelas Adrys.

PLN menargetkan seluruh pekerjaan sipil rampung pada akhir November 2026. Sementara itu, berdasarkan jadwal kontrak, penyelesaian proyek ditetapkan pada 4 Desember 2026. Untuk peluncuran resmi geowisata, PLN masih perlu berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten dan pemerintah provinsi. Pengembangan kawasan ini juga menjadi bagian dari rekomendasi Satuan Tugas Pemerintah Provinsi NTT.

Gas Beracun H₂S Jadi Perhatian, PLN Siapkan Sistem Keselamatan

Di balik potensi wisata panas bumi, aspek keselamatan menjadi perhatian utama PLN. Kawasan geothermal memiliki karakteristik alam yang perlu dipahami pengunjung dan pengelola, termasuk potensi keberadaan gas hidrogen sulfida (H₂S).

Adrys mengatakan, PLN telah memasang alat pendeteksi gas (gas detector) untuk memantau konsentrasi H₂S di kawasan geowisata. Apabila kadar gas melampaui ambang 10 bagian per sejuta (parts per million atau PPM), alat tersebut akan mengeluarkan bunyi peringatan secara otomatis.

H₂S merupakan gas beracun yang tidak berwarna dan mudah terbakar. Gas ini dapat terbentuk secara alami dalam sistem panas bumi dan dikenal memiliki bau menyerupai telur busuk pada konsentrasi rendah. Namun, paparan pada konsentrasi tinggi dapat mengganggu kemampuan penciuman, sehingga bau tidak dapat dijadikan patokan keamanan.

Selain memasang alat pendeteksi gas, PLN juga menyiapkan Self-Contained Breathing Apparatus (SCBA), yakni perangkat pernapasan mandiri untuk membantu melindungi petugas ketika menghadapi kondisi atmosfer berbahaya. Peralatan ini menjadi bagian dari penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) selama proyek berlangsung.

PLN juga menekankan pentingnya pembekalan keselamatan bagi Pokdarwis Wogo sebagai pihak yang akan mengelola geowisata tersebut. Pelatihan diperlukan agar masyarakat memahami langkah yang harus dilakukan ketika alarm pendeteksi gas berbunyi, termasuk prosedur evakuasi dan pembatasan akses ke area berisiko.

“Kami perlu memberikan pelatihan kepada masyarakat yang nantinya mengelola geowisata ini. Mereka harus memahami tindakan yang tepat ketika gas detector berbunyi. Karena itu, aspek K3 akan terus kami kawal,” ungkap Adrys.

Dengan pendekatan tersebut, pengembangan Geowisata Geothermal Wogo tidak hanya diarahkan untuk menghadirkan destinasi wisata baru, tetapi juga memastikan pengelola dan pengunjung memahami potensi bahaya di kawasan panas bumi.

Panas Bumi Bukan Sekadar Energi, tetapi Peluang Ekonomi Masyarakat

Pengembangan geowisata geothermal merupakan salah satu pendekatan untuk menghubungkan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) dengan kegiatan pariwisata edukatif. Melalui konsep ini, kawasan panas bumi dapat menjadi ruang pembelajaran bagi pelajar, peneliti, dan wisatawan untuk mengenal proses alam yang berkaitan dengan energi geothermal.

Area panas bumi memiliki potensi sebagai laboratorium alam untuk mempelajari hubungan antara aktivitas geologi, fluida panas bumi, batuan, dan pemanfaatan energi untuk menghasilkan listrik. Dengan pengelolaan yang tepat, aktivitas edukasi tersebut dapat berjalan berdampingan dengan upaya konservasi lingkungan dan perlindungan keselamatan pengunjung.

Di sisi lain, keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam memastikan manfaat ekonomi geowisata dapat dirasakan secara langsung. Pengelolaan oleh Pokdarwis membuka peluang bagi warga untuk mengembangkan layanan pemandu wisata, usaha kuliner, penjualan produk lokal, serta kegiatan ekonomi kreatif lainnya.

Pengalaman pengembangan kawasan panas bumi di sejumlah wilayah Indonesia, seperti Dieng dan Lahendong, juga memperlihatkan bahwa potensi geothermal dapat dikaitkan dengan aktivitas lain di luar pembangkitan listrik. Pemanfaatan panas bumi secara langsung (direct use), apabila didukung kondisi teknis dan kajian keselamatan yang memadai, dapat dikembangkan untuk kegiatan seperti pemandian air panas, pertanian, agrowisata, hingga pengeringan komoditas lokal.

Meski demikian, pengembangan setiap kawasan perlu menyesuaikan karakteristik sumber daya, kondisi lingkungan, dan kebutuhan masyarakat setempat. Pemanfaatan panas bumi untuk pariwisata tidak serta-merta menghilangkan risiko, sehingga pengawasan, edukasi, dan penerapan standar keselamatan tetap menjadi persyaratan utama.

Melalui pembangunan Geowisata Geothermal Wogo, PLN dan masyarakat setempat diharapkan dapat membangun destinasi yang menggabungkan edukasi energi bersih, pelestarian alam, dan penguatan ekonomi lokal. Keberhasilan program ini nantinya tidak hanya diukur dari rampungnya fasilitas fisik, tetapi juga dari kesiapan masyarakat dalam mengelola kawasan secara aman, berkelanjutan, dan memberikan manfaat bagi warga Desa Wogo.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *