Jakarta, Datatambang – PT Timah Tbk mencatatkan kinerja keuangan yang impresif pada semester pertama 2026. Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp10,42 triliun, melonjak 247 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat Rp4,22 triliun. Pertumbuhan ini ditopang oleh peningkatan volume penjualan dan kenaikan harga jual rata-rata logam timah di tengah kondisi pasar yang masih mendukung.
Kinerja positif juga terlihat dari perolehan laba bersih. Hingga akhir Semester I 2026, PT Timah mencatat laba bersih sebesar Rp2,71 triliun. Angka tersebut bahkan telah melampaui target laba bersih sepanjang 2026 yang ditetapkan sebesar Rp1,61 triliun. Dengan demikian, realisasi laba perseroan telah mencapai sekitar 169 persen dari target tahunan.
Manajemen optimistis kinerja perusahaan masih dapat tumbuh pada semester kedua 2026. Proyeksi tersebut didukung oleh harga logam timah yang diperkirakan tetap kuat. Perseroan juga akan mempertahankan kinerja produksi bijih, menjaga penjualan logam, serta memperkuat eksistensi dan memperluas pasar melalui strategi pemasaran.
Selain faktor harga, implementasi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 79 diharapkan menjadi pemicu perbaikan tata kelola pertambangan timah dari sektor hulu hingga hilir. Kebijakan tersebut mencakup penguatan kegiatan eksplorasi serta peluang pertumbuhan produksi bijih, khususnya di wilayah operasi Belitung. Langkah ini dinilai dapat membuka ruang bagi peningkatan kinerja dan laba bersih pada paruh kedua tahun ini.
Di sisi lain, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) turut memengaruhi biaya operasional perusahaan. Kondisi tersebut mendorong naiknya harga bahan baku, material, dan suku cadang selama semester pertama 2026 sehingga meningkatkan cash cost. Meski demikian, margin perusahaan tetap terjaga karena kenaikan harga jual logam mampu mengimbangi tekanan biaya.
Cash cost PT Timah pada Semester I 2026 tercatat sebesar US$24.435 per metrik ton. Sementara itu, perusahaan memperkirakan biaya tersebut berada di kisaran US$23.000 hingga US$24.000 per metrik ton pada akhir 2026. Dari sisi harga jual, perseroan memperkirakan harga logam timah berada di kisaran Rp45.000–Rp47.000 per metrik ton sesuai proyeksi yang disampaikan manajemen.
Untuk mendukung operasional dan pengembangan bisnis, PT Timah menargetkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp446 miliar sepanjang 2026. Dengan dukungan harga logam, penguatan tata kelola, dan optimalisasi produksi, perseroan berharap dapat mencatatkan kinerja yang lebih baik hingga akhir tahun.










