Jakarta, Datatambang – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) melihat nickel matte masih menjadi penyumbang utama pendapatan Perseroan. Namun, mulai 2026, kontribusi dari ekspansi operasi di Bahodopi dan Pomalaa diproyeksikan semakin besar. Selain mempertahankan keandalan operasi Sorowako, perusahaan juga mulai meningkatkan penjualan bijih nikel, baik saprolite berkadar tinggi maupun limonite. Diversifikasi ini membuat portofolio produk PT Vale semakin luas, dengan nickel matte tetap menjadi kontributor utama, sementara penjualan bijih nikel bertumbuh seiring peningkatan kapasitas operasi.
Prospek operasional pada semester kedua 2026 dinilai cukup positif. Pekerjaan Furnace 3 Rebuild telah rampung pada Juni, sedangkan kinerja operasi semester pertama relatif stabil. Kadar nikel dari aktivitas pertambangan berada di sekitar 1,82 persen, salah satu level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Kadar feed yang lebih baik mendukung efisiensi dan optimalisasi proses produksi di pabrik. Dengan perbaikan fasilitas yang telah selesai, kualitas bahan baku yang mendukung, serta operasi pabrik yang stabil, Perseroan optimistis kinerja produksi semester kedua akan meningkat dan target tahunan dapat tercapai.
Dalam jangka menengah dan panjang, PT Vale tetap memandang industri nikel memiliki prospek yang positif. Meski demikian, dalam jangka pendek, industri masih menghadapi tantangan berupa pertumbuhan pasokan yang besar, terutama dari Indonesia, serta fluktuasi harga komoditas. Dari sisi permintaan, kebutuhan nikel diperkirakan terus berkembang dan semakin beragam. Meningkatnya penggunaan baterai berbasis lithium iron phosphate (LFP) tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan nikel. Di luar Tiongkok, sebagian besar baterai kendaraan listrik masih menggunakan teknologi berbasis nikel.
Potensi permintaan nikel di masa depan juga dapat berasal dari sektor data center, robotika, infrastruktur kecerdasan buatan, energi terbarukan, dan pengembangan jaringan listrik. Karena itu, investasi PT Vale tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga mengantisipasi pertumbuhan permintaan jangka panjang. Penyelesaian proyek-proyek HPAL semakin memperkuat strategi tersebut. Dengan portofolio nickel matte, MHP, dan bijih nikel, serta kemitraan dengan perusahaan teknologi, baterai, dan otomotif, Perseroan berupaya mengelola risiko dari sisi sumber daya, teknologi, dan pasar. Pendekatan perusahaan adalah berhati-hati dalam jangka pendek, tetapi tetap konstruktif untuk jangka menengah dan panjang.
Pada periode 2026–2027, PT Vale masih berada dalam fase ekspansi. Fokus utama perusahaan adalah memastikan proyek pertumbuhan, termasuk Bahodopi, Pomalaa, dan fasilitas pengolahan baru, selesai tepat waktu dan sesuai anggaran. Perseroan juga tetap memiliki aspirasi untuk membagikan dividen kepada pemegang saham. Namun, kemampuan tersebut akan dievaluasi secara berkala dengan mempertimbangkan berbagai faktor, seperti pergerakan harga komoditas, efisiensi pendanaan, dan pengelolaan belanja modal, sebagaimana evaluasi yang dilakukan untuk tahun buku 2025.
Dari sisi produksi, PT Vale menyampaikan bahwa meskipun terjadi keterlambatan RKAB pada Januari, realisasi produksi semester pertama tetap mencapai sekitar 1 persen di atas rencana. Untuk semester kedua, kondisi operasi dinilai mendukung pencapaian target. Dengan selesainya Furnace 3 Rebuild, kadar nikel pertambangan sekitar 1,82 persen, dan operasional pabrik yang stabil, Perseroan optimistis dapat memenuhi target produksi 2026 sebesar 67.645 metrik ton (MT).
Untuk mendukung proyek pertumbuhan, PT Vale telah memiliki committed standby facility berupa Sustainability-Linked Loan senilai US$750 juta. Namun, fasilitas tersebut baru mencakup sebagian kebutuhan pendanaan proyek sehingga tambahan pembiayaan masih diperlukan. Total belanja modal atau capex 2026 diperkirakan mendekati US$700 juta, meliputi pengembangan tambang, investasi proyek HPAL, dan sustaining capex. Kebutuhan investasi diproyeksikan mencapai puncak pada 2027 dengan capex sekitar US$1,1 miliar, terutama untuk pembangunan fasilitas HPAL baru. Pada 2028, capex diperkirakan masih sekitar US$800 juta, termasuk investasi atau partisipasi dalam HPAL Sorowako. Pendanaan tambahan akan dilakukan secara bertahap mengikuti pencapaian setiap tahapan proyek.
PT Vale kembali menegaskan pandangan positif terhadap prospek nikel, meskipun gejolak jangka pendek masih dipengaruhi keseimbangan pasokan dan permintaan, faktor geopolitik, serta perubahan harga komoditas dan input produksi seperti sulfur dan minyak. Dalam jangka panjang, permintaan nikel berpotensi meluas ke sektor robotika, kecerdasan buatan, data center, dan teknologi baterai seperti solid-state battery. Perseroan akan berfokus menjaga profitabilitas di tengah berbagai tantangan, sembari menyelesaikan proyek ekspansi yang akan memperkuat diversifikasi produk, mulai dari nickel matte, MHP, hingga bijih nikel. Kemitraan dengan produsen teknologi, industri baterai, dan otomotif juga memberikan dukungan terhadap kepastian pasar serta membantu mengurangi risiko di sepanjang rantai nilai.










